Arsip Penulis

SITI JENAR

jenar_2528_aug_2005_0602Ilmu selalu membukakan cahaya. Tapi, di setiap ujung langkah, kegelapan mencegatnya. Ternyata, itulah yang memungkinkan perjuangan menjelajahi arasyi ilmu “berjanji” untuk mengantarkan kita ke keabadian. Sebut: ke Tuhan.
Jika seseorang menggenggam keyakinan ilmu tanpa menyisakan “uang tak terduga”, sesungguhnya ia sedang melamar “kematian”. Kata kematian sengaja kita taruh diantara tanda petik karena kosmologi yang kita pahami—seperti Syekh Siti Jenar memandangnya—ternyata terbalik.
Wali “sempalan” itu memandang dunia dan kehidupan absrud adanya. Kejelasannya sangat tidak jelas dan ketidakjelasannya sangat jelas. Mungkin ada kata tertoreh yang lebih lugas: “Saksikanlah, kematian bertebaran dalam kehidupan!”
Kematian berlapis-lapis dan berdimensi. Berbagai kematian hampir tak diketahui oleh mereka yang menyangka sedang tinggal dalam kehidupan. Kematian memang tak terlihat. Ini membuat orang bersorak-sorai di lantai pesta kematian yakni kehidupan. Orang mencemaskan kematian yakni kehidupan.
Orang mencemaskan kematian. Bahkan mereka siap membayar penghindarannya dengan biaya yang muskil, dengan ilmu dan pembangunan yang memperanakkan penindasan dan perang.
Kematian bertebaran dalam kehidupan. Kematian riuh rendah. Oleh karena itu, di segala zaman, amat sedikit orang yang bersedia menempuh jalan sunyi. Amat sedikit orang bertanya. Sebab, ilmu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kebudayaan menjawab pertanyaan dengan perombakan. Pembangunan menjawab pertanyaan dengan peruntuhan. Sejarah menjawab pertanyaan dengan perubahan. Dan politik menjawab pertanyaan dengan senapan.
Siti Jenar memilih jalan sunyi itu. Betapa terkutuk ia, tetapi betapa agung sakit yang dikunyahnya. Bukan Siti Jenar, tapi “Siti Jenar”. Bukan figurnya, tapi substansi dan posisi simbolisnya. Siti Jenar sudah terpenjara: kumal, kumuh, dan barangkali terkutuk-oleh “syariat” sejarah. Oleh formalisme dan “materialisme”. Tapi “Siti Jenar” adalah salah satu idiom yang menggairahkan untuk menyebut bagian—dari dunia dan kehidupan—yang mempertanyakan. Menawar. Menggugat.
Tatkala mengantarkan “kematian”-nya, Sunan Bonang menurut salah satu versi legenda tentangnya berkata, “Engkau kafir di mata manusia, tapi muslim di pangkuan-Nya.”
Alangkah berbahaya. Ini revolusi filsafat, juga teologi. Itulah pintu untuk menjumpai kehidupan sejati dibalik kematian yang kita hidup-hidupkan. Dan pintu itu harus ditutup rapat-rapat: tidak saja oleh ideologi pembangunan yang memompa-mompa kesementaraan yang berujung kebuntuan dan serta batu bata emas permata yang berujung kemusnahan. Pintu itu bahkan di gembok erat-erat oleh kekuasaan syariat di pangung pemelukan agama. Tampaknya, Sunan Bonang mengucapkan kalimat “subversif” itu dalam sidang tertutup yang dilarang diperdengarkan ke telinga umat.
Maka, Siti Jenar harus disembunyikan. Ia ancaman terhadap kebakuan, kebekuan dan kemapanan. Ia ancaman bagi tradisi, konvensi, pakem, ketertaatan yang selesai: yakni segala bangunan, sistem, keberlakuan nilai, yang diresmikan untuk tak boleh diubah, untuk menjadi museum.
Dalam kebudayaan, adanya kehidupan ditandai oleh terus-menerus berlangsungnya transformasi kreatif. Atau paradigma dalam penjelajahan ilmu, inovasi dalam kesenian, ijtihad dalam agama. Itu semula jalan sunyi. Dunia kekuasaan mencurigainya, formalisme agama menyempalkannya, kebudayaan mengangapnya gila, dan kebanyakan manusia tak menyapanya.
Wajah “Siti Jenar” membayang di keremangan dunia puisi, yang terduduk sepi di pojok pasar. Terselip dibalik lembaran-lembaran ilmu yang berhasil memotret realitas tetapi gagal merekam geraknya. Kalau ditanyakan kepadanya-”Dimana letakmu dalam tata nilai budaya?, ia menjawab-”Aku berumah di geraknya. Aku berjalan melintasi petak demi petak kebekuannya. Aku tidak percaya kepadanya karena dia palsu: kalau dipertahankan ia mati, kalau di ubah ia menjelma kelenyapan demi kelenyapan”.
Siti Jenar sudah dipatungkan dalam format nilai budaya sejarah: ia mati, dimatikan, dan menjadi kematian. Tapi “Siti Jenar” sudah hidup, mengatasi budaya, dan bergabung ke keabadian.
Ketika dipanggil menghadap sidang para wali, ia menjawab, “Siti Jenar tak ada. Hanya Tuhan yang ada.”
Siti Jenar bukan Tuhan. Sama sekali bukan Tuhan, Apa yang ia lakukan “hanyalah” peniadaan diri. Sebab, memang hanya itulah satu-satunya jalan bagi manusia. Hanya Tuhan yang sungguh-sungguh ada. Manusia hanya seakan-akan ada, hanya diadakan, diselenggarakan. Sejatinya tak ada. Maka, jalan agar tak palsu, agar sejati, ialah meniada, bergabung kepada satu-satunya yang ada. Itulah tauhid.
Ini juga bukan soal tasawuf, mistik, dan kebatinan. “Siti Jenar” ditemukan oleh orang-orang tua yang mulai melihat bahwa segala sesuatu yang ia ada-adakan selama hidupnya dengan keringat dan tumpukan dosa ternyata sangat potensial untuk tiada. “Siti Jenar” ditemukan oleh para penguasa yang di ujung jatah keberkuasaannya ia memperoleh lebih banyak ketidakamanan.
“Siti Jenar” menemani orang yang dikejar-kejar karena mengugat dan menawarkan kehidupan kepada kematian yang dilestarikan. “Siti Jenar” terkapar bersama sedikit orang penolak kematian yang berwujud otoritarianisme politik, ketakberbagian ekonomi dan kejumudan kultur. “Siti Jenar” bernyanyi perih dalam tidur orang-orang yang meletakkan fikih sejajar dengan firman dan identik dengan Tuhan. “Siti Jenar” tercampak dari arena kebudayaan yang hanya sanggup menerima verbalitas bahasa, yang mengahafalkan hidup adalah KTP, negara, norma, undang-undang, dan juklak-juknis. Terlempar dari kebudayaan yang bersembahyang demi prevensi kepegawaian teologis dan tidak dalam dinamika ilmu tarekat; yang berpuasa untuk lapar, berzakat untuk kredit status, berhaji untuk keningratan. “Siti Jenar” diusir oleh formalisme, “syariat” dan fanatisme.
Kalimat “Siti Jenar tak ada, yang ada hanya Tuhan” tidak sedikitpun mengindikasikan bahwa ia “menuhankan diri”. Ia bahkan menyadari hakekat ketiadaannya. Firaun tidak pernah menyatakan “Akulah Tuhan!”. Yang ia lakukan-sehingga bermakna menuhankan diri ialah menomorsatukan yang selain Tuhan: ambisi kekuasaan, maniak harta benda, mengumbar nafsu, merancang segala sesuatu, dan mengeksploatasikan apa saja yang bisa dijangkau untuk kepentingan karier dan masa depan pribadi.
Itulah obsesi populer kita sehari-hari. Itulah jalanan ramai, pasar riuh rendah kita semua.[]

Emha Ainun Nadjib

Type H Behavior

ADA penelitian psikologi sosial terhadap masyarakat kapitalis di Barat yang mengindikasikan mereka terjangkit “type H behavior” atau sebut saja virus 3H.

Ini sekaligus sebuah peringatan untuk kalangan eksekutif dan masyarakat kelas atas Indonesia, mengingat virus 3H dimaksud potensial menyergap kehidupan mereka. Ketiganya adalah hurried, hostile, humorless.

Pertama hurried, suatu sikap yang selalu tergesa-gesa, selalu merasa dikejar-kejar oleh waktu sehingga di manapun berada selalu tidak tenang. Jatah waktu 24 jam sehari atau tujuh hari seminggu rasanya tidak cukup untuk menjalani agenda hidup mereka. Coba saja amati atau renungkan kondisi kita sendiri, fisik dan pikiran jarang menyatu dalam ruang dan waktu yang sama.

Badan kita di sini, tetapi pikiran berada di tempat lain, baik karena sudah ada janji maupun ingin mengejar kegiatan lain. Kondisi mental semacam ini semakin luas menghinggapi masyarakat papan atas.

Hidupnya meloncat dari satu tempat ke tempat lain, minimal pikiran dan emosinya.Teknologi jam tangan yang semula diciptakan sebagai penanda waktu, kini posisinya berbalik malah mendikte dan merampas kebebasan manusia.

Kalender dan jam tangan bukan lagi sebagai hiasan, namun telah menjadi tonggak-tonggak yang mematok dan memagari langkah mereka. Mereka menjerat dirinya dengan kalender dan jam. Mereka juga tidak bisa hidup tanpa telepon genggam sehingga perhatian dan pikirannya bercabang dan beranting ke segala penjuru.

Coba amati perilaku di jalan raya. Semua ingin cepat, namun yang terjadi justru ramai-ramai membuat kemacetan dan kekesalan serta pemborosan. Kita terjebak dan terkena imbas dari hydro carbon society yang menjerat masyarakat kapitalis.

Coba tengok juga sajian acara televisi. Bagi pemilik stasiun televisi, jam siaran adalah uang, sehingga campur aduk silih berganti antara materi sajian pokok dan iklan lantaran tanpa iklan industri televisi akan mati. Pemasang iklan adalah tambang emas. Setiap menonton televisi, tangan mesti memegang remote control untuk memindah saluran yang satu ke yang lain.

Mata dan pikiran pun meloncat-loncat tidak karuan, mengikuti sajian yang berubah-ubah. Dari berita kriminal, gosip selebriti, penggusuran rumah, demo pemilihan kepala daerah, mimbar agama, lawak dan lain-lain yang menghasilkan campur sari suguhan televisi yang tidak selalu enak dan sedap ditonton.

Ketika bicara di telepon, kita juga selalu ingin cepat karena dikejar ongkos pulsa. Bertamu pun jangan lama-lama dan mesti tahu diri karena tuan dan nyonya rumahnya sibuk. Begitu pun ketika menghadap pejabat, harus ingat dengan jatah menit yang telah ditentukan oleh sekretarisnya karena dalam birokrasi justru sekretaris yang mengatur bos.

Bos adalah orang yang sibuk yang harus diatur, siapa pun yang berurusan dengan dia mesti hemat waktu. Lalu ada lagi yang ingin cepat kaya, maka korupsilah dia. Karena semuanya dilakukan tanpa suasana batin yang tenang, jarang muncul pemikiran yang jernih dan dalam.

Busy is the way of life. Hurried, hurried, hurried….. Virus mental kedua adalah hostile. Ini masih bersaudara dengan virus pertama. Siapa cepat siapa dapat. Maka berlombalah untuk berebut apa saja, sejak dari berebut jabatan lurah, camat, bupati, anggota legislatif, sampai presiden. Hostile adalah rasa persaingan dan permusuhan karena takut tidak kebagian.

Yang miskin membenci yang kaya karena dianggap rakus dan tidak dermawan, yang kaya tidak menghargai yang miskin karena dianggap sebagai gangguan dan ancaman yang akan merampok kekayaan mereka.

Maka dibuatlah pagar rumah tinggi-tinggi serta pos satpam serta anjing galak. Ke mana pun pergi, mesti ada pengawal pribadi. Untuk berjaga diri kalau sewaktu-waktu muncul sengketa bisnis, maka banyak orang kaya yang memiliki lawyer pribadi, bukan sekadar pengawal dan dokter pribadi.

Virus mental hostile juga telah menghinggapi para pejabat dan politisi. Mereka memandang pihak yang berbeda sebagai ancaman yang sewaktu-waktu akan merebut posisinya, terlebih menjelang pemilu.

Iklim curiga dan tidak senang pada orang lain mudah terlihat dalam ruang publik, terutama di jalan raya.

Masing-masing sangat sadar untuk mencari aman bagi dirinya seraya curiga pada yang lain. Jika terjadi serempetan kendaraan, bukannya berhenti lalu saling bertegur dengan lapang dan menambah kenalan baru, namun muka masam dan bentakan yang pertama muncul. Karenanya, siapa pun yang merasa menabrak bukannya berhenti minta maaf, malah lari kencang untuk cari selamat.

Hal yang juga membuat kita kecewa, hubungan antarmantan presiden dan antarmantan pejabat tinggi negara juga terserang virus hostility. Bukannya menunjukkan sikap saling bersahabat dan secara kompak ikut prihatin mencari solusi perbaikan bangsa yang masih terpuruk ini, namun yang sering mengemuka di media adalah sering mengkritik di belakang ketimbang memberikan apresiasi dan sharing gagasan konstruktif.

Tampaknya sebagian dari kita lebih senang membenci ketimbang memberi apresiasi. Padahal, pujian dan kalimat bagus itu memberikan energi kehidupan lebih tinggi dan mampu menciptakan kohesi sosial dan optimisme masa depan.

Sebaliknya, kata-kata dan kalimat negatif memiliki energi rendah, cenderung memperlemah hubungan sosial, serta tidak memiliki daya dorong kuat untuk maju dan membuat loncatan prestasi. Ada kalanya memang terjadi, kritik dan cacian akan membuat seseorang bangkit, tetapi hal itu tidak didasari dengan sikap yang tulus.

Jika kedua macam virus mental di atas telah menyerang kesadaran bawah sadar seseorang, dia akan mengisolasi diri dan jadi pemurung, meski berada di tegah keramaian. Perhatikan saja orang yang selalu hidup tergesa-gesa dan hatinya cenderung melihat orang lain sebagai pesaing dan ancaman, pembawaannya sulit tertawa (humourless).

Kalaupun tertawa terlihat seperti dipaksakan, tidak lepas. Padahal, setelah diteliti tertawa itu menyehatkan secara pribadi maupun sosial. Di lingkungan masyarakat Barat, peredaran obat penenang dan obat tidur melonjak berlipat-lipat akibat masyarakatnya terserang virus 3H ini.

Tetapi kalau soal tertawa, bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat bawah, justru lebih mudah dijumpai ketimbang masyarakat papan atas yang tampak selalu serius dan gelisah. Mereka memiliki kiat hidup yang tinggi sehingga bisa tertawa dan bercanda dengan kegetiran hidup dan problem sosial yang dihadapi. Parade pulang mudik Lebaran, misalnya, yang oleh kalangan elite dipandang susah dan menyengsarakan, bagi para pekerja kuli dan pembantu rumah tangga bisa dijinakkan sebagai festival yang membahagiakan.

Jerih payah setahun di kota hilang dan terobati dengan pulang mudik ketemu keluarga dan handai taulan di kampung dengan bekal uang pas-pasan. Idealnya virus 3H itu diubah, sehingga masyarakat papan atas kita menjadi honored, humble, and happy. Hidup terhormat, rendah hati, dan semoga mendatangkan bahagia.

inspired by : Prof. Komaruddin Hidayat.

Modern Slavery, Zombie Employees dan Kepuasan Kerja

Secara normal, para pekerja kantoran menghabiskan waktu hingga 40 jam per minggu untuk menekuni pekerjaannya (banyak pegawai di sejumlah perusahan bahkan yang mesti harus melewati 60 jam kehidupan per minggunya dalam ruangan kantor). Sebuah durasi waktu yang teramat panjang, dan acap meletihkan. Sebab itu, alangkah tragisnya jika dalam jejak waktu yang panjang itu kita gagal mereguk kepuasan kerja yang optimal.

Tanpa dimensi kepuasan kerja, proses kerja nan meletihkan itu bisa membuat kita terperangkap dalam modern slavery (saya cukup terhenyak ketika pernah melihat slogan dalam sebuah t-shirt yang berbunyi begini : Being An Employee is Like Modern Slavery…..). Lalu elemen apa saja yang mesti diperhatikan manakala kita hendak menemukan sebuah dunia kerja yang membahagiakan, dan mampu menebarkan kepuasan bagi para pelakunya? Dan bukannya justru membuat kita terjerembab dalam duka nestapa yang panjang, dalam cengkraman “perbudakan modern”?

Dari sejumlah literatur dan studi empirik, terdapat 4 elemen vital yang sangat berperan dalam perwujudan sebuah dunia kerja yang membahagiakan. Elemen yang pertama adalah : meaningful and challenging work. Kita mungkin akan terkapar dalam kejenuhan yang akut manakala kita terus dipaksa mengerjakan tugas yang tidak pernah memberikan kita kesempatan untuk berkembang, untuk berpikir, untuk mencerahkan gagasan-gagasan segar kita. Ya, sebab kita hanya akan terus dapat bertumbuh menjadi insan yang produktif manakala kita terus bisa bergerak melakukan tugas-tugas yang kian menantang; yang kian kompleks, yang mendorong kita untuk terus merekahkan kemampuan terbaik untuk menaklukannya. Dan persis disitulah kita akan merasa puas jika mampu mengerjakan dan menuntaskannya secara ekselen. Challenging jobs will make us happy.

Elemen yang kedua adalah equitable rewards. No question about this. Kita hanya akan happy dan puas jika merasa imbalan yang kita terima (gaji, bonus, tunjangan kesehatan, tunjangan mobil, dll) sebanding dengan kerja dan prestasi yang telah kita dedikasikan. Apa ukurannya sebanding? Setidaknya total imbalan yang diterima sama dengan pasar (atau perusahaan dari industri sejenis).

Elemen yang ketiga adalah supportive working colleagues. Kita akan merasa happy dan puas jika teman-teman kantor kita merupakan insan-insan yang kooperatif, yang fun dan enak diajak kerjasama, yang mampu menebarkan spirit kebersamaan demi mencapai tujuan yang diangankan. Sebaliknya, kita sungguh akan merasa terpojok dalam rasa frustasi jika rekan-rekan kerja di kantor lebih asyik melakukan office politics, saling mementingkan kepentingan bagiannya/departemennya masing-masing, dan saling terperangkap dalam dinding pemisah antar bagian. Lalu masing-masing tergelencir menjadi raja-raja kecil yang saling tidak peduli dan enggan membangun komunikasi yang produktif dengan bagian lainnya. Kita acap menyaksikan fenomena kegagalan komunikasi antar departemen semacam ini, dan kita sungguh dibuat kecewa dengan situasi semacam ini.

Elemen yang terakhir bagi pembentukan a happy job adalah supportive boss. Sekitar 12 tahun silam, ketika masih bekerja untuk sebuah perusahaan, saya pernah memiliki seorang atasan/bos perempuan yang cantik dan good looking. Namun bukan itu poinnya. Yang selalu saya kenang darinya adalah ini : ia benar-benar mampu memerankan dirinya sebagai seorang atasan yang inspiratif, memiliki visi yang jelas, dan tak segan memberikan apresiasi jika saya menuntaskan pekerjaan dengan baik. Kompetensinya yang brilian telah membuat saya betah dan merasa happy bekerja dengannya (sudah sepuluh tahun kami tidak pernah bertemu, namun kualitasnya sebagai an inspiring boss telah membuat saya selalu terngiang dengan dirinya setiap kali bicara tentang peran atasan dalam menciptakan kepuasan kerja….).

Demikianlah empat elemen kunci yang mesti diperhatikan kala kita hendak merajut sebuah lingkungan kerja yang menyenangkan dan membikin penghuninya merasa puas dan happy. Ingat, sebagian besar dari kita menghabiskan waktu 50 % dari seluruh jejak hidup kita saat ini di ruangan kantor. Jangan biarkan detak jam itu berlalu tanpa kenangan yang membanggakan. Dan jangan pernah biarkan detak jam itu merobohkan kita menjadi hanya sekedar “zombie employees” dalam kubangan modern slavery…..

Inspired by : Yodhia Antariksa

Pidato (Inspiratif) dari Steve Jobs (Pendiri Apple)

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah.

Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah.

Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.

Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya.

Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin bayi perempuan.

Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat?

Mereka menjawab: “Tentu saja.”

Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA.

Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi. Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.

Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya.

Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik.

Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.

Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya.

Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat.

Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya.

Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.

Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya.

Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun.

Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.

Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.

Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan?
Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya.

Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan.

Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan.

Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley .

Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya.

Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya.

Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple.

Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya.

Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan.

Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat.

Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.”

Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?”

Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar.

Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa.

Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas.

Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.

Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut.

Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana , mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.

Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.

Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:

Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak.

Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar.

Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain.

Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.

Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park , dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid.

Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.

Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda.

Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh).

Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish.

Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.

Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.

Stay Hungry. Stay Foolish.

« Tulisan sebelumnya