Saya suka mencoba sesuatu yang baru. Termasuk ketika ada info ada pantai baru berpasir putih, belum terjamah banyak orang dan katanya eksotis. Namanya saja mencoba, saya siap dengan dua kemungkinan: kekurangan dan kelebihan.
Saya tidak akan komplain kalau saja menemukan kekurangan. Saya sendiri sudah beberapa kali mendirikan usaha, juga selalu mengecewakan konsumen, stake holder dan banyak orang setiap kali usaha itu mulai berjalan. Lama-lama kekurangan itu dikoreksi dan akhirnya menjadi baik. Dalam hidup pun, kita harus berani melakukan perjalanan. Baik dan jelek. Tanpa perjalanan, tidak akan ada beragam pemandangan dan pengalaman yang bisa diceritakan.. Dan sebuah pribadi yang miskin kisah perjalanan, tentu tidak menarik untuk diajak ngobrol sambil berlambat – lambat minum kopi.. ;p
Kemungkinan kedua, saya akan langsung mengaguminya. Siapa tahu kehebatan pantai ini sama dengan pantai-pantai eksotis diluar negeri sana. Pantai ujung genteng ini merupakan jaringan dari pantai selatan yang langsung menghadap Samudera Hindia yang memanjang dari pulau sumatera sampai papua. Inilah jaringan pantai selatan yang sudah sangat melegenda itu. Konon penguasa pantai selatan ini adalah seorang putri cantik nan jelita dan saktinya bukan main. Sampe-sampe katanya Hotel Bali Beach Inn pun menyediakan kamar khusus buat sang ratu ini di hotelnya. Wuidih..
Lalu apa yang saya alami ketika di pantai Ujung Genteng ini?
Saya memperoleh dua-duanya. Kekurangannya dan kelebihannya.
Tempatnya memang di ujung. Lebih tepatnya paling ujung barat daya pulau jawa dengan daerah yang masih belum modern. Jadi, jangan mengharapkan akses jalan yang mulus dan lancar seperti Tol Cipularang atau Tol Jagorawi. Tapi rupanya disinilah pemandangan alam yang paling alami bisa kita temukan. Saya mengambil rute Bandung – Cianjur – Sukabumi – Jampang Tengah – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng. Pemandangan di rute 3 kota pertama biasa saja dan tidak menarik. Rute 4 kota terakhir lah yang menurut saya membuat cukup penasaran dan hutannya sangat indah.


Jalannya yang berkelok-kelok dan tidak lebar dengan hutan hijau membentang, membuat saya déjà vu seperti pemandangan yang ada di pembukaan film 3 Idiots yg keren itu. Nah, ketika berada di jalan yang tidak ber hot mix, pikiran saya malah melayang bak berada di negeri Pandora yg ada di film avatar ( hehehe ). Hujan besar yang turut mewarnai perjalanan di rute 3 kota terakhir ini, cukup memicu adrenalin. Tapi bagi yang tahu saya, paling-paling akan nyengir saja. Semakin mendebarkan, maka semakin nikmat.. hahaha..
Saya plong ketika melihat banyak pohon kelapa setelah berkendara 5 jam. Itu artinya, pantai sudah di depan mata. Dan benar saja, belum menginjak kan kaki pun, kita sudah pada terpesona. Saya berhenti di pantai untuk sejenak melihat keindahannya. Tujuan pertama saya ketika sampe adalah cari penginapan. Saya melongok-longok dan ngobrol dengan ibu-ibu penduduk yang ramah itu untuk mendapatkan informasi. Oh, di sana di sebelah kanan berjajar beberapa penginapan. Ada penginapan deddy, penginapan adi, penginapan ujang dan beberapa lainnya.

Saya pilih penginapan yang nyaman dan langsung menghadap laut. Untuk ukuran pantai yang rada jauh dari peradaban, penginapan yang saya tempati ini cukup modern. Bangunannya dari bahan beton dan keramik warna abu-abu dengan cat tembok kontemporer. Kasurnya empuk seperti kasur hotel the view di Dago, dilengkapi AC, TV, ada cermin di sebelah pojok kiri samping persis di depan kamar mandi, klosetnya juga sudah modern pake kloset duduk warna putih dan sudah dilengkapi shower yang bisa di setel tinggi rendahnya.
Di teras depan penginapan ini ada 2 kursi dan 1 meja warna cokelat untuk bersantai sambil memandang laut. Maklum, jarak penginapan ini cuma sekitar 100 meter dari laut lepas. Suara ombak dan semilir angin lautnya masih kerasa. Di depannya lagi, ada gazebo yang kelak malamnya saya gunakan untuk menyantap makan malam pake ikan bawal bakar se-gede bagong dengan bumbu sambel kecap, nasi putih panas dan minumnya teh manis anget.
Malam itu agak gerimis sedikit, jadi saya memutuskan untuk berjalan-jalan dengan kaki telanjang di pantai sekitar penginapan. Tapi dalam kegelapan malam pun masih bisa terlihat kejernihan airnya. Ada beberapa ikan-ikan kecil hilir mudik. Juga ada 2 perahu nelayan yang sedang berlabuh. Tadinya malam itu saya akan melihat penyu, tapi sayang sedang gerimis. Jadi lebih baik dipijit lalu beristirahat untuk besok melihat sunrise dan menjelajahi pantai eksotis ini secara keseluruhan. ;p


gunawan Berkata:
on 21 Februari 2011 at 12:19
uennnndahhhhhhhhh
makkkkkkkkk nyussssssss
top markotopppppppppp
sip markosiiiipppppppp